Zhang Yimou yang Kehilangan Sentuhan

05 January 2017 by
Zhang Yimou yang Kehilangan Sentuhan

The Great Wall, kolaborasi Cina-Hollywood yang diprediksi menggemparkan jagad perfilman, gagal di segala aspek.

Sutradara visioner Zhang Yimou yang sukses dengan sejumlah film macam Raise the Red Lantern (1991), Hero (2002) House of Flying Daggers (2004), dan Curse of the Golden Flower (2006), tak berhasil mengeluarkan ‘tangan Midasnya’ dalam The Great Wall (2016).

Khusus tiga film terakhir, anda akan menemukan keindahan bela diri Cina dalam aksi laga eksotis yang diperankan Jet Li, Tony Leung, Maggie Cheung, Zhang Ziyi, Donnie Yen, Andy Lau, Takeshi Kaneshiro, Chow Yun-fat, dan Gong Li.

Nama-nama tenar dan jaminan mutu sinema Tiongkok. Tak hanya menonjolkan adegan laga, alur cerita yang kuat juga sangat mewarnai film-film di atas.

Wajar jika publik berharap sentuhan dingin Zimou akan spektakuler dalam film terbarunya ini. Apalagi ia berkolaborasi dengan Hollywood, salah satu pusat perfilman yang menguasai dunia hingga kini.

Kolaborasi Cina-AS plus bujet yang mencapai 135 juta dolar AS, terbesar dalam sejarah perfilman Cina, tentu saja mengundang hasrat kaum moviegoer untuk menyambangi bioskop. Apa yang bakal ditawarkan film kolosal ini?

Apa daya, harapan itu tak kesampaian. Aksi Matt Damon—salah satu bintang papan atas Hollywood—yang ditandemkan dengan Andy Lau yang juga superstar Cina, tak mampu memenuhi ekspektasi besar penonton.

Satu diantara sekian banyak misteri di balik tembok yang mengular hingga 8.850 kilometer itu yang jadi jualan utama. Sayang The Great Wall lemah dalam naskah, penokohan, adegan laga, maupun plot. Keindahan kungfu yang biasanya mewarnai karya-karya Zimou tergantikan oleh computer-generated imagery (CGI) yang mewarnai hampir keseluruhan film.

Duel pedang di udara dengan jurus-jurus memukau nan akrobatik seolah lenyap tak berbekas. Keindahan pemandangan alam Cina seperti dalam Hero atau House of Flying Daggers juga tak nampak dalam karya sutradara kawakan ini.

Penonton hanya disuguhi bentangan Tembok Besar Cina—dari jauh maupun dekat—dan kegersangan gurun pasir maupun pebukitan kering di seputar tembok.

Memang pertarungan melawan monster yang disebut Tao Tei mendominasi separuh bagian film, namun tak cukup tegas menunjukkan gaya Yimou. Pertarungan melawan monster bakal lebih beragantung pada efek khusus.

Zimou sepertinya ‘menyerah’ pada CGI. Ia tak memaksimalkan keindahan laga sebagaimana biasa. Yang membuatnya ditabalkan sebagai salah satu sineas terkemuka Negeri Tirai Bambu.

Mungkin ada yang mengatakan wajar saja, mengingat pertarungan yang terjadi adalah duel manusia versus monster. Bukan manusia melawan manusia. Namun, ini tak bisa dijadikan dalih. Kita bicara soal Zhang Yimou, bukan sutradara baru jadi.

Julukan visioner yang melekat pada diri Yimou—suka atau tidak—menuntut adanya tanggung jawab menghasilkan karya yang sepadan. Publik tak mau tahu dengan ‘dalih’ (excuse), mereka hanya butuh kepiawaian Yimou dalam mengolah cerita visual.

The Great Wall membuka kisah dengan pelarian dua sahabat karib—William Garin (Matt Damon) dan Pero Tovar (Pedro Pascal)—dari kejaran suku liar yang berakhir di depan Tembok Raksasa. Beberapa meter dari sebelum mencapai tembok, ratusan anak panah menghambur ke arah mereka, menancap di atas tanah dalam bentuk lingkaran.

Mereka pun mendongak ke atas. Tampak ratusan pemanah dengan busur di tangan dan ribuan pasukan lain memadati tembok. Nyali kedua pengembara dan mantan tentara bayaran itu goyah. Mereka takluk, menyerah.

Kedua sobat karib itu tak bakal mampu menghadapi pasukan yang dipimpin perwira cantik, Komandan Lin Mei (Tian Jing). Menjadi tawanan adalah satu-satunya pilihan. Berada dalam kurungan sepertinya akan memudahkan mereka melaksanakan rencana semula; mencari bubuk hitam (mesiu).

Tak mudah bagi William dan Tovar mewujudkan niat mendapatkan bubuk hitam. Mereka justru terjebak dalam perang besar melawan Tao Tei, monster mirip kadal yang muncul tiap 60 tahun sekali.

Konon, Tao Tei keluar sarang untuk menumpas keserakahan manusia. Pasukan elite dinasti Orde Tanpa Nama di bawah kendali Jenderal Shao (Zhang Hanyu) ditugaskan untuk mengamankan rakyat dan negara dari serbuan makhluk ganas yang dikenal cerdas itu.

William dan Tovar yang semula bakal dieksekusi, akhirnya jadi pahlawan dalam serangan pertama Tao Tei. Kemampuan tempur William, terutama dalam melepaskan anak panah, menarik perhatian para perwira pasukan Orde Tanpa Nama.

Aksi pasukan penjaga Tembok Raksasa, terutama Pasukan Biru, dalam menghalau serangan Tao Tei yang mencoba memanjat tembok cukup memukau. Adegan pasukan khusus wanita yang berlompatan dari atas tembok itu digambarkan dengan memikat.

Visualisasi antara wide, medium, dan closed up plus sesekali gerak lambat dalam pertempuran itu mampu memanjakan mata. Sentuhan khas Yimou bisa dibilang terasa di sini.

Adegan menggetarkan lainnya dari film berdurasi 1 jam 44 menit ini adalah saat prosesi pelepasan jenazah Jenderal Shao. Ribuan lampion berwarna kuning dilepaskan ke udara diiringi genderang beduk dan himne untuk sang jenderal. Kombinasi lampion, beduk dan himne itu cukup mengoyak emosi.

Damon dan Lau
Harapan besar lain yang tak terejawantah dalam film ini adalah porsi peran Damon dan Lau. Dua bintang besar ini kurang menempati ruang untuk beradu akting.

Damon dan Lau sepertinya ‘ditakdirkan’ bersatu berkat peran masing-masing di The Departed (2006) dan Infernal Affairs (2002). Dua film bergenre sama tentang pertukaran penjahat dan polisi yang menyusup ke pihak seberang.

Namun, kepiawaian dua aktor berkelas ini tak dimaksimalkan oleh Yimou. Justru adu akting Damon-Pascal yang menyita perhatian, terutama lewat guyon yang terselip dalam sejumlah dialog mereka. Walau pertemuan mereka kerap ‘dinodai’ visualisasi jarak dekat, namun tak meruntuhkan ‘chemistry’ dua aktor ini.

Zhang Yimou dan para penulis naskah lebih memberikan porsi besar pada Damon dan Tian Jing, dengan mengikat keduanya menggunakan ‘Xin Ren’. Kata-kata yang ditafsirkan sebagai ‘saling percaya’.

Komandan Lin butuh kepercayaan William yang dikenal sebagai pencuri dan pendusta. Sebaliknya, William juga belum terlalu percaya pada Lin yang bernafsu membunuhnya di awal-awal cerita.

Dan kisah William-Lin pun mendominasi keseluruhan pertempuran melawan jutaan Tao Tei. Di sinilah Hollywood 'menegaskan' eksistensinya; sang pahlawan harus menang.

William adalah penyelamat, sementara Lin cukup membantu saja. Di lain pihak, Pakar Strategi Wang (Andy Lau) harus berkorban nyawa demi lempengnya jalan yang harus dilalui sang pahlawan.*



The Great Wall (2017)

Sutradara:
Zhang Yimou

Penulis:
Max Brooks, Tony Gilroy, Marshall Herskovitz, Edward Zwick, Doug Miro, Carlo Bernard

Pemain:
Matt Damon, Willem Dafoe, Pedro Pascal, Andy Lau, Jing Tian, Zhang Hanyu, Eddie Peng, Luhan.

Apa Reaksi Anda ?

Love
0%

Suka

Laugh
0%

Lucu

Surprised
0%

Kaget

Sad
0%

Sedih

Angry
0%

Marah

38 Comments in this article

Tunggu Sebentar Ya...

Submit
Jeremy Christy9 23 July 2019 | 10:33:07

Sekarang sudah kurang sekali pendapatannya

Dimas Prayogo 23 February 2019 | 00:16:45

wajar jika publik berharap sentuhan dingin zimou

imran boram 18 February 2019 | 00:55:43

keren banget film china kaya ada manis m

uzoners 22 December 2018 | 07:24:30

alur ceritanya yang sangat mewarnai dalam setiap film filmnya

Reno Laza 20 December 2018 | 08:43:51

Ini Mah Namanyw Nggak Bagus Kenapa Bisa akehilangan Sentuhan Hahahahahah

Load More Comments
Contact Us:
Redaksi: redaksi@uzone.id
Sales: sales@uzone.id
Marketing: marketing@uzone.id
Partnership: partnership@uzone.id
To Top